SEKALI KLIK DUNIA PUN TERBUKA

Sekali klik dunia pun terbuka berkat domainesia

Sekali Klik Dunia Terbuka
Ilustrasi Penulis: Sekali Klik Dunia Terbuka

Serba mudah, tidak ribet dan dapat dijangkau oleh setiap orang. Demikian kira-kira gambaran umum yang terjadi saat ini. Era digital memang menyulap segalanya. Membawa alam peradaban seolah dapat menembus lintas batas. Tidak ada sekat jarak dan waktu.

Bila dulu, berkomunikasi jarak jauh saja susah dan perlu mengeluarkan banyak biaya, saat ini tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya seakan-akan dimudahkan dengan biaya murah. Fasilitas yang disediakan pun tidak sekedar berbasis suara, media penggabungan audio-visual sudah menjadi trend komunikasi.

Demikian juga pada sektor informasi. Mencari dan mendapatkan informasi di era digital tidak butuh waktu lama. Hanya hitungan menit bahkan detik, segala informasi yang kita butuhkan tersajikan. Wajar, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu membawa perubahan peradaban. Berbanding lurus dengan gaya hidup manusia.

Tentu, segalanya memiliki konsekuensi, baik positif maupun negatif. Namun lagi-lagi konsekuensi kemudahan yang ada saat ini kembali pada diri kita masing-masing. Jika arif menyikapi, pasti mendatangkan keuntungan dan berkah. Sebaliknya, jika kemudahan tersebut disalah-artikan, bisa saja menjadi pisau tajam yang membunuh bahkan menjerumuskan karakter diri kita.

Sebagai insan berbudaya, tidaklah tepat jika mudahnya arus komunikasi-informasi digunakan sebagai alat berbuat jahat. Harus memiliki demarkasi yang jelas. Tidak sebatas memaknai kebebasan yang tanpa batas dan berpotensi merugikan pihak lain.

Di sisi lain, men-dewakan dunia digital sebagai segala-galanya sumber informasi juga tindakan yang kurang baik. Harus disadari bahwa setiap orang saat ini bisa menjamah media digital. Dan tidak setiap orang memiliki rasa tanggung jawab atas hal yang disampaikan melalui media digital. Maka, filtrasi segala informasi menjadi hal sentral bagi kita.

Jejak digital juga tidak kalah dahsyatnya. Bisa digunakan apa pun sesuai kebutuhan. Bahkan, melihat karakter pribadi seseorang dapat ditelusuri melalui rekam jejak digital yang pernah ditinggalkan. Namun, tetap ada sisi positifnya. Meninggalkan rekam jejak kita melalui dunia digital bisa jadi media penyimpan ingatan yang luar biasa. 
Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi mutakhirnya teknologi saat ini?
Satu dari sekian banyak manfaat yang dapat diunduh dari pesatnya perkembangan teknologi saat ini adalah pada dunia pendidikan. Secara tidak langsung, canggihnya media komunikasi menunjukkan berkembangnya ilmu pengetahuan yang signifikan. Dan perkembangan ini menuntut adanya keseimbangan.


Ilustrasi Lomba Domainesia
Ilustrasi Penulis. Sumber: matabaca.net

Media Pembelajaran

Mau tidak mau, jika ingin menjadi penikmat kemudahan yang disuguhkan melalui media digital ya harus belajar. Minimal memahami dan dapat mengaplikasikan. Tanpanya, harus rela gigit jari. Memandang dari kejauhan, larut pada paradigma konvensional. Mau? He he. 

Frasa “ketinggalan jaman”, rupanya juga bisa bermakna ejekan, sindiran atau ungkapan lain yang bersifat negatif. Hampir dapat dipastikan, ketinggalan jaman tidak bermakna positif. Jika tidak mau ketinggalan jaman, konsekuensinya harus mengembangkan potensi yang kita miliki menjadi sesuatu yang berarti. Apalagi piawai berteknologi. 

Ketinggalan jaman juga kadang bisa menjadi motivasi besar. Tak jarang, karena kata ketinggalan jaman pula akhirnya mendayagunakan segala hal demi menghilangkan label itu pada diri kita. Lagi-lagi belajar, demikian kata kuncinya.

Teknologi lambat laun telah menjadi kebutuhan. Setiap orang hampir merata minimal memegang gadget. Setidaknya, ada alat elektronik yang digunakan berkomunikasi digital. Gambarannya, bagaimana bisa menggunakan dengan baik jika tidak mengetahui tata cara dan prosedur penggunaannya? Maka, belajar juga kunci utama. 

Tanpa disadari, sedikitnya ada dua sisi positif yang kita peroleh. Meski hanya bermotivasi mengimbangi kecanggihan teknologi. Mungkin juga hanya sebatas menghilangkan predikat katrok, gaptek, kuno dan ketinggalan jaman. Pertama, rasa keingintahuan yang berubah menjadi kebutuhan akan ilmu pengetahuan mengantarkan kita dari yang semula belum tahu menjadi tahu. Dengan mengetahui, akhirnya apa yang kita harapkan dapat dilakukan. 

Kedua, tanpa sengaja sebenarnya kita telah menjalankan tuntutan kewajiban personal. Menuntut ilmu, belajar. Kewajiban yang amat dianjurkan (dalam Islam disebut dengan kata fariidhotun). Maknanya wajib yang sangat diutamakan. Bahkan, dalam kaidah lain, menuntut ilmu menjadi wajib selama manusia hidup hingga ke liang lahat. 

Prinsip kewajiban dalam menuntut ilmu juga mengilhami norma dasar kenegaraan. Pendidikan nasional oleh negara ditempatkan sebagai pilar utama. Bahkan kewajiban pendidikan dasar sembilan tahun menjadi salah satu agenda nasional yang harus dipenuhi oleh seluruh elemen bangsa ini. Begitu kira-kira sekilas betapa pentingnya belajar bagi kita. 
Pertanyaan logisnya, dalam hal apa dan dimana kita dapat menuntut ilmu (belajar)?
Sekilas jawabanya, dimana pun dan dalam hal apa pun. Memang, menuntut ilmu tidak ada batasan sampai tingkatan apa. Profesor sekalipun, jika masih merasa ada hal yang dirinya tidak tahu, akan selalu berusaha mencari tahu. Upaya yang demikian disebut pula belajar. 

Belajar tidak mengenal ruang dan waktu. Belajar secara umum tidak hanya bermakna proses pengajaran guru dan murid di kelas. Lebih dari itu, usaha mencari tahu, mencari cara atas hal baru juga termasuk belajar. 

Terlebih pada sesuatu yang berkembang dinamis. Dalam waktu yang singkat muncul hal baru, teknologi terkini. Maka, kebutuhan akan ilmu terhadap sesuatu yang baru itu menjadi hal prinsip, prioritas dan perlu segera dikuasai. Inilah yang saya katakan era digital sebagai media pembelajaran

Fenomena munculnya banyak fasilitas digital yang ada dalam tempo relatif singkat berhikmah tersendiri. Salah satunya, kita akan berupaya segera mencari tahu, menemukan ilmu bagaimana media tersebut bisa berdaya guna. Tidak sedikit, sebagai pengetahuan yang baru, literatur konvensional belum diajarkan. 
Bagaimana kita mencari tahu?
Pertanyaan ini tentu mengarah pada proses. Cara kita mendapatkan pengetahuan atas hal baru. Sebagaimana telah dikemukakan di awal bahwa menuntut ilmu tidak terbatas ruang dan waktu. Bebas memilih dan menentukan media pembelajaran. Dengan catatan, kita mampu memfilter hal mana yang baik dan tidak baik untuk kita serap sebagai ilmu pengetahuan.

Secara mendasar, landasan keilmuan telah kita peroleh di bangku sekolah maupun perkuliahan. Kita hanya melanjutkan dan memperdalam fondasi dasar tersebut sehingga tercipta bangunan yang utuh. Material bisa kita dapat dari mana pun. Tentu dengan cara yang benar dan tidak menyalahi aturan.

Milenial Tidak Harus Mahal 

Bergaul dengan dunia digital saat ini telah bergeser menjadi gaya hidup (life style). Jauh berbeda dengan kondisi puluhan tahun lalu. Menggunakan smartphone misalnya, kini seakan-akan sudah menjadi kebutuhan. Bahkan kebutuhan primer. Tentu lain halnya dengan puluhan tahun lalu. Smartphone bisa jadi kebutuhan tersier.

Ilustrasi Lomba Domainesia
Ilustrasi Penulis. Sumber: medium.com

Secara ekonomis, para pelaku bisnis pasti mengincar titik tertentu yang marketable. Terbukti, varian alat komunikasi demikian menjamur di negeri ini. Mereka akan berlomba-lomba mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Akhirnya, harga pun bersaing. Kondisi inilah yang kemudian berlaku hukum alam. Konsumen akan selalu membidik produk berkualitas dengan harga murah.

Akibatnya, banyak sekali produk-produk digital yang dipromosikan dengan harga relatif terjangku. Bahkan terbilang murah. Dengan kualitas dan fasilitas yang mumpuni, tidak perlu merogoh kocek dan mengeluarkan biaya mahal. 

Milenial menjadi trend. Mereka yang berparadigma konvensional akan dikatakan ketinggalan jaman, kuno. Sebaliknya, mereka yang mengikuti arus perkembangan informasi dan teknologi khususnya dalam dunia digital, bisa dibilang sebagai kalangan milenial. 
Lagi-lagi pilihan, mau pilih yang mana? Milenial tidak mahal atau tetap konvensional?
Kalau saya tentu memilih opsi pertama. Milenial tidak mahal. He he. 
Namun bukan karena ingin meninggalkan paradigma klasik. Justru berupaya mengkolaborasikan antara pengetahuan modern dengan pandangan konvensional. Pasti akan lebih menarik.

Toh, dengan sendirinya kita akan belajar. Mencari tahu, mencari informasi sebanyak-banyaknya atas hal baru dan mutakhir. Nah, secara otomatis manfaat sebagai media pembelajaran telah terserap juga.

Akademis, Praktis, Aplikatif

Saya seorang akademisi, sekaligus praktisi. Bukan berkecimpung dalam dunia digital. Sarjana hingga doktoral saya berlatar belakang hukum. Saya merasakan betapa dunia digital sangat berperan besar dalam profesi dan lingkup kehidupan yang saya tekuni.

Ilustrasi Lomba Domainesia
Ilustrasi Penulis. Sumber: thethreetrials.com

Dalam dunia akademik misalnya, sebagai seorang dosen, tentu dituntut produktif. Bahkan selalu mengikuti perkembangan terkini konstalasi perubahan peraturan perundang-undangan. Dari mana saya mencari tahu? Nongkrong di gedung DPR? Tentu bukan solusi praktis. he he..

Demikian halnya sebagai lawyer. Khazanah pengetahuan akan perkembangan beberapa model penanganan perkara terkini menjadi tuntutan. Termasuk bagaimana kita harus memberikan pendapat hukum (legal opinion) kepada Klien. 

Bahkan, baru-baru ini Mahkamah Agung RI telah membuat peraturan mengenai e-court. Praktisi hukum diharuskan terdaftar pada jejaring e-court tersebut untuk melakukan proses persidangan di Pengadilan. Mulanya banyak yang berpikir pertentangan dari hukum acara. Namun, saya justru mengapresiasi. Lebih efisien dan tidak membutuhkan biaya mahal.

Artinya, suguhan berupa kemudahan yang diberikan di era digital saat ini telah masuk pada semua lini, bahkan hampir semua profesi. Karenanya, seorang akademisi maupun praktisi juga dituntut untuk mampu memanfaatkannya secara optimal.

Literatur dan bahan-bahan telaah hukum kini telah banyak berwujud digital. Pengguna dengan mudah bisa mengakses dan mengunduh tanpa perlu repot-repot mendapatkan langsung dari sumbernya. Transaksi pun demikian, bisa melalui online. Sungguh kemajuan yang luar biasa. 

Di sisi lain, publikasi atas karya berupa tulisan maupun bentuk lain bisa dengan mudah diunggah. Cukup bermodal pengetahuan dasar media digital, semua dapat dilakukan. Karenanya, kini pun saya mulai belajar banyak hal. Tantangan bagi saya merupakan hal yang menarik. 
Jika pihak lain dapat melakukan mengapa kita tidak? 
Semuanya bergantung pada kemauan dan keingintahuan. Bisa saja cukup pasrah kepada ahlinya, semua beres asal ada dana. He he. Begitukah? 
Nampaknya kurang etis dan hanya sebatas hasil akhir yang kita dapatkan. Padahal proses sehingga muncul hasil itulah yang sangat mengesankan. 

Sedikit demi sedikit saya mencoba belajar. Mulai dari membuat blog personal hingga memanfaatkan fasilitas blog sebagai media literasi. Walhasil, jadilah blog yang saya gunakan menulis saat ini. Memang masih serba terbatas. Maklum dalam taraf belajar. Lagi pula bukan basic keilmuan saya di bidang IT.

Sengaja, saya tidak memasrahkan kepada pihak lain yang lebih piawai. Saya memang berkeinginan menjadikan aktivitas blogging sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dan di situlah saya menemukan banyak hal. Mulai bahasa pemrograman hingga bahasa penulisan ala blog.

Saya selalu berusaha untuk dapat beradaptasi pada segala kondisi. Termasuk melalui dunia maya ini. Bisa dibilang bertolak belakang. Dengan profesi dosen dan lawyer lantas menuliskan menggunakan bahasa ala blogger. Sungguh jauh berbeda. Tapi, semua akan indah pada waktunya. He he. 
Saya justru menemukan bagaimana suasana hanyut kala berselancar di dunia maya. Sekali Klik, dunia pun terbuka.

Domainesia Untuk Indonesia

Jujur, saya belum menjadi user aktif di Domainesia. Bahkan saya menggunakan domain TLD ini pun belum berasal dari Domainesia. Memang, seperti yang telah saya ceritakan di awal, saya memulai aktivitas blogging juga ala kadarnya. 

Saat itu, awal mula saya membuat blog, saya menggunakan platform gratis. Lambat laun saya tertarik memiliki domain blog yang tidak berembel-embel platform gratisan. Akhirnya saya mencoba googling dan menemukan salah satu penyedia domain. Tanpa berpikir lama, jadilah saya membeli domain dari penyedia tersebut (mohon maaf tidak saya sebutkan namanya untuk menjaga privacy).

Belakangan saya jadi tahu ternyata tidak sedikit penyedia layanan domain dan hosting di Indonesia. Harganya pun variatif. Yang lebih penting kemudahan dan keamanan bertransaksi yang ditawarkan.

Disitulah saya mengenal Domainesia. Setelah mendaftarkan diri sebagai member Domainesia, saya takjub dengan berbagai tawaran yang diberikan. Banyak hal yang bisa didapatkan oleh member. Salah satunya domain dan Hosting Murah. Di banding penyedia domain dan hosting lain, harga yang diberikan Domainesia terbilang lebih murah. 
Bahkan, Domainesia juga memberikan panduan bagaimana cara membuat blog agar profesional. Bahasa yang digunakan simpel, mudah dipahami dan aplikatif. Kalau saya bilang Indonesia banget ! he he.
Terus terang, meski belum menjadi member sebelumnya, saya sering melihat panduan dari Domainesia. Bagi saya, semua tips dan trik menjadi blogger profesional ada di sana. Silakan dilihat dan dikunjungi jika ingin membuktikan.
Meng-Indonesia-kan Domainesia?
Ilustrasi Lomba Domainesia
Sumber: domainesia.com

Topik pembahasan menarik. Dengan fasilitas dan kemudahan yang diberikan, saya yakin ke depan Domainesia akan menjadi perusahaan terkemuka. Namun yang lebih penting dibanding sekedar tenar dan profit adalah darma bakti untuk negara. Kebutuhan kepemilikan blog personal bagi saya sudah menjadi prioritas.

Sekian tahun menjadi dosen, saat ini saya mencoba memanfaatkan kemudahan digital. Terbukti, saya benar-benar merasakan betapa banyak manfaat yang saya dapatkan. Dengan blog pribadi, saya tidak lagi repot-repot dalam memberikan materi kepada mahasiswa, demikian juga mahasiswa tidak perlu bertatap muka dengan dosen hanya sebatas mengumpulkan tugas perkuliahan.

Segalanya menjadi simpel dan praktis. Mahasiswa tidak harus keluar biaya tambahan untuk cetak materi, tugas dan mendapatkan file berupa hand-out perkuliahan. Cukup mengunjungi blog milik dosen, semuanya tersedia. 

Saya sendiri memiliki 2 blog pribadi. Satu untuk sebatas aktivitas di dunia maya dan satu lagi untuk aktivitas perkuliahan. Saya berharap, digitalisasi pada proses pembelajaran bisa menjadi terobosan agar benar-benar memberikan pola pendidikan yang terjangkau bagi insan akademik.

Disinilah peran Domainesia untuk negara. Setidaknya, dengan menyediakan segala fasilitas untuk kebutuhan media digital, bisa memberikan manfaat juga bagi kalangan praktisi-akademisi di Indonesia. Semakin banyak memanfaatkan media digital, saya yakin dunia juga akan mempertimbangkan Indonesia sebagai negara yang berteknologi canggih.

Semoga sedikit cerita ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Era digital memang menghadirkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan. Dengan digital, sekali klik dunia terbuka.

KOMENTAR

Name

AGAMA,11,BERITA,1,HUKUM,7,HUMANIORA,24,OPINI,18,POLITIK,4,Sastra,1,SMK KEHUTANAN,1,
ltr
item
RM. Armaya Mangkunegara: SEKALI KLIK DUNIA PUN TERBUKA
SEKALI KLIK DUNIA PUN TERBUKA
Sekali klik dunia pun terbuka berkat domainesia
https://4.bp.blogspot.com/-uyt7ov8SQMY/W_cKW5-5HLI/AAAAAAAAHVY/MmHXP9oBq5428KopurCCHHsUFruf7Vo0ACLcBGAs/s640/ILUSTRASI%2BDOMAINESIA.png
https://4.bp.blogspot.com/-uyt7ov8SQMY/W_cKW5-5HLI/AAAAAAAAHVY/MmHXP9oBq5428KopurCCHHsUFruf7Vo0ACLcBGAs/s72-c/ILUSTRASI%2BDOMAINESIA.png
RM. Armaya Mangkunegara
https://www.gusmaya.com/2018/11/sekali-klik-dunia-pun-terbuka.html
https://www.gusmaya.com/
https://www.gusmaya.com/
https://www.gusmaya.com/2018/11/sekali-klik-dunia-pun-terbuka.html
true
8140052626018875915
UTF-8
Tampilkan Semua Post Tidak Menemukan Post TAMPILKAN Baca Selengkapnya Balas Batalkan Balasan Hapus Oleh Home HALAMAN POSTS Tampilkan Semua BACA JUGA: TAG ARSIP CARI SEMUA POST Artikel yang Anda cari tidak ditemukan Kembali Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy Semua Seleksi Semua Semua Code Telah Tercopy Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy